Ulil Kecewa Hijab Syar’i Gusur Kerudung Indonesia, Padahal Hijab Syar'i Sudah Ada Di Sini Sebelum Ulil Lahir

Ulil Kecewa Hijab Syar’i Gusur Kerudung Indonesia, Padahal Hijab Syar'i Sudah Ada Di Sini Sebelum Ulil Lahir

Pimpinan Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala mengungkapkan bahwa dirinya sangat kecewa dengan trend Muslimah Indonesia yang lebih mengenakan Hijab Syar’i yang menutup rapat aurat daripada menggunakan kerudung.

Ulil memberi istilah bahwa Hijab Syar’i dengan sebuatan Jilbab Model Timur Tengah, sedangkan kerudung yang lebih mirip selendang disebut sebagai jilbab nusantara.


“Gara-gara gelombang “Islamisasi” model Timur Tengah era 80an, jenis jilbab Nusantara itu tergusur. Amat disayangkan” tulis Ulil di twitter pribadinya, kamis(18/8/2016).

Meskipun demikian Ulil mengaku masih sedikit berbahagia masih ada beberapa Muslimah yang masih melestarikan jilbab nusantara, seperti istri almarhum Gusdur, Ibu Shinta Nuriah.

“Di antara figur publik yg masih konsisten dg jilbab gaya lokal adalah isteri Gus Dur, Ibu Shinta Nuriyah.” papar Ulil.

Jauh Sebelum Ulil Lahir, Tokoh Muslimah Indonesia Ini Sudah Menggunakan Hijab Syar’i


Klaim pimpinan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang mengatakan Hijab Syar’i sebagai jilbab Timur Tengah dan tidak sesuai dengan budaya Nusantara Indonesia tidaklah benar. Bahkan para Muslimah yang mengenakan Hijab Syar’i telah berkontribusi bagi Indonesia jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Salah seorang tokoh Muslimah yang sudah mengenakan Hijab Syar’i adalah Rahmah El Yunusiah, yang merumakan reformator pendidikan Islam di Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, sekolah agama Islam perempuan pertama di Indonesia.


Rahmah El Yunusiah lahir Nagari Bukit Surungan, Padangpanjang pada tahun 26 Februari 1900 Masehi, jauh sebelum Ulil lahir didunia pada 11 Januari 1967.

Rahmah tampil menentang kebijakan pemerintah kolonial yang akan memberlakukan Ordonansi Sekolah Liar. Di berbagai daerah Minangkabau muncul penolakan dari para ulama dan guru menentang peraturan yang akan mengakibatkan sekolah yang tidak memiliki izin dari pemerintah ditutup.

Rahmah memimpin penolakan di Padangpanjang pada 1933. Namun, sewaktu memimpin Rapat Umum Kaum Ibu Padangpanjang, ia dituduh membicarakan politik sehingga mengakibatkannya didenda 100 gulden oleh pengadilan. Pada tahun yang sama, Belanda melalui Politieke Inlichtingen Dienst menggeledah Diniyah Putri, mencari buku Ur Watul Wutsqa dan teks lagu Indonesia Raya. Tiga orang guru Diniyah Putri: Kanin RAS, Chasjiah AR, dan Siti Adam Addarkawi dikenakan larangan mengajar.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia sebagai utusan SKIS. Dalam kongres, ia memperjuangkan penggunaan ciri khas budaya Islam ke dalam kebudayaan Indonesia seperti penggunaan kerudung dalam busana perempuan.

Pada 1938, ia hadir dalam rapat umum di Bukittinggi untuk menentang Ordonansi Kawin Bercatat. Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh di Kotaraja, Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Pimpinan Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala melalui akun twitterya mengungkapkan bahwa dirinya sangat kecewa dengan trend Muslimah Indonesia yang lebih mengenakan Hijab Syar’i yang menutup rapat aurat daripada menggunakan kerudung.

Sumber: Tribunislam.com