Beda Habib Rizieq dengan Pengkritik, Habib Punya Massa, Pengkritik Gak Punya, Sembunyi Dibalik Akun Bodong


1. Pagi ini saya baru tahu bahwa sama dengan @anismatta, RizieqShihab juga pernah bersekolah di sekolah Katolik.

2. Saya juga baru tahu bahwa sama seperti @felixsiauw, @UstadTengku juga keturunan Tionghoa.

3. Kita terbantu oleh mudahnya mencari berita, sehingga kemudahan ini seharusnya memudahkan kita menemukan kesamaan.

4. Sayang sekali kalau kemudahan ini melalui internet justru kita pakai untuk mencari perbedaan sebanyak mungkin.

5. Dan perbedaan yang semakin tajam itu kita jadikan ujung sengketa yang merajalela.

6. Begitulah cara kita memandang FPI dan RizieqShihab yang oleh sekelompok orang di-demonised.

7. Mereka warga negara yang terbuka. Biasa diajak bicara dan komunikasi.

8. Bahkan saya lihat dalam video yang berdurasi cukup panjang sang Habib bicara di depan forum agama-agama.

9. Beliau juga bicara tentang dasar negara dan pandangannya dituangkan dalam Tesis S2 dan desertasi S3.


10. Jadi pertanyaaanya, kenapa pengkritik beliau tidak duduk saja bersama apalagi Kalau Sama2 punya gelar akademik.

11. Bedanya memang karena FPI adalah ormas yang punya anggota dan massa. Sehingga Habib juga punya massa.

12. Sementara para pengkritik tidak punya massa yang gak apa-apa tapi jangan sembunyi di balik akun palsu.

13. Saya rasa habib gak akan pergi atau menghilang kalau diajak bicara. Dia lahir di jakarta.

14. Sementara tidak fair kalau yang tidak pernah nampak, tidak punya ide dan tidak punya massa menyerang dari belakang.

15. Cap tidak toleran kepada habib @RizieqShihab rasanya tidak fair. Karena dia ada dan dipanggil polisi dia datang.

16. Sementara yang menuduh tidak toleran tidak kelihatan. Hanya ramai pakai nama samaran.

17. Hari itu, habib RizieqShihab bersama jutaan massa. Dia memberi khotbah Jumat. Di antara jama'ah ada @jokowi dan @Pak_JK .

18. Di antara penyimaknya adalah panglima TNI dan Kapolri dan kita bangsa Indonesia.

19. Apa bisa kita lompat menuduh orang yang bicara di depan kepala negara sebagai tidak toleran?

20. Kalaupun ia, kenapa kepala negara tidak bicara dan membantah apa yang ia katakan?

21. Jadi sekali lagi,

Ini banyak keanehan...

Ini bukan Indonesia..

Ini bukan kita.. [opinibangsa.com / pi]