Komentari Kriminalisasi Terhadap Ulama, KH. Ainul Yaqin: Awas Daging Ulama itu Beracun



Hukum mencela para ulama bisa kita lihat surat Al-Hujarat:12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Dari ayat diatas kita dapat mengambil kesimpulan:
1. Haramnya berprasangka buruk pada sesama muslim
2. Haramnya memata-matai sesama muslim
3. Haramnya menggunjing, membicarakan keburukan saudar muslim kita

Allah bahkan menyamakan orang yang menggunjing bagaikan makan bangkai saudaranya sendiri, tentu ini tidak akan kita sukai. Jika terhadap sesama muslim saja kita dilarang oleh Allah menggunjing lebih-lebih lagi terhadap ulama, yang mereka adalah pewaris para nabi, dari para ulamalah kita mengerti tentang diin ini. ulama adalah pewaris para nabi, menghina ulama sama saja menghina yang mewarisnya yaitu para nabi. Jadi sangat jelas keharamaannya mencela para ulama.


Jika kita lihat makna dari surat Al Hujarat ayat 12 maka sanagt jelas bahwa daging para ulama itu beracun. Al Imam Abul Qasim Ali Ibnu Asakir mangatakan "ketahuilah wahai saudaraku sesungguhnya daging para ulama itu beracun, permusuhan Allah terhadap orang yang melecehkan kehormatan para ulama juga sudah maklum, dan barang siapa yang menyibukkan lisannya untuk menjelek-jelekan para ulama maak Allah akan menimpakan musibah kepadanya sebelum kematiannya yaitu dengan kematian hati. Cara Allah mengunggkap kedok para pencela ulama telah diketahui bersama, karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka adalah petaka besar."

Maka tidak selayaknya kita mencela para ulama, karena perbuatan ini sangat-sangat dimurkai Allah SWT. bahkan ketika dia mencela ulama itu dia sedang memakan daging yang beracun dan itu akan membunuh dirinya yaitu membunuh hatinya, sehingga hatinya menjadi mati sehingga sulit memahami hukum Allah dan tertutup dari hidayah

Maka kita tidak boleh mencela ulama meskipun ulama tersebut berbeda dengan kita.

Oleh : KH. Muhammad Ainul Yaqin (Pimpinan Ponpes Al Ukhuwah Al Islamiyah)

Sumber: Dakwahmedia.id