Hebat, Usia Masih 22 Tahun, Pemuda Ini Jualan Kerupuk Sehari Omsetnya Bisa 800 Ribu Kadang Lebih


Anak muda ini aku temui tadi siang di warung soto.

Sambil bawa motor yg ada tempat krupuk .aq bertanya " g susah bawa sebesar itu?"

"G Mbak.udah biasa"

Umur nya baru 22 tahun.seperti biasa jiwa jurnalis q muncul tiba-tiba.dengan bertanya mulai Dr jam berapa jualan.sistem nya beli di pabrik atau produksi sendiri.sampai berapa keuntungan dia per hari nya.

Saya langsung terkejut mendengar penjelasan detail nya.

Kerupuk itu dia beli mentah per kg-an.kemudian dia bawa ke daerah candi untuk di goreng Khan.upah goreng nya per 1 kg krupuk itu sebesar Rp.7.500

Per hari dia bisa habiskan 20 kg kerupuk.dengan jam kerja 6-9 pagi dia di pasar kemiri.

9-12 dia keliling dan meng suply tempat makan serta warkop.

"Krupuk nya kalau hitung bijian berapa?"
Tanya ku ke dia.
"Rp.200 Mbak kalau Dr aku.kalau di warung/warkop mereka jual nya ada yang 1000 dapat 3.ada yang Rp.500.tergantung tempat nya "

Aq menelisik lagi.
Kalau harga kerupuk nya hitungan nya cuma Rp.200/ biji.berapa pendapatanmu sehari dek?

"800rb Mbak?

Langsung melonggo...

"Kalau Minggu bisa sampai 1 juta."

Ku kejar lagi dia.itu Khan Bru omset pendapat kotor nya lah.lah keuntungan bersih mu sendiri berapa kalau jualan 800rb/hari.

"Ya kurang lebih 40-45% Mbak dari itu"

Lalu iseng aq hitunglah.

Sehari dapat pendapat bersih sekian dek?(sambil nunjukin layar kalkulator hp)

"Yah bisa lebih dikit Mbak "

Padahal layar hp q menunjukkan angka 320rb.

Kerja tiap hari?

"Iya mbak.lah wong jam 12 sudah selesai aja koq"

Well mari kita hitung 320rbx30 hari 9.6 juta pendapatan bersih per bulan.

Apa yang bisa kamu dapatkan dari jualan krupuk dek?

"Ya Alhamdulillah Mbak.bisa beli motor sendiri.kemarin nyicil beli tanah kavling"

See??
Anak muda umur 22 tahun.kerjaanya jualan krupuk.bisa dapat pendapatan sekian.

Dari sini saya sadar.apapun pekerjaan nya.yg penting sungguh-sungguh.karena dalam berdagang itu profit cash yg utama daripada sekedar upload kegiatan meeting-meeting.

Catatan tentang belajar dari penjual kerupuk

[Diceritakan oleh Arita Mustofa Zain]